Kendari,Sultra – Intergreenmedia.co.id | Dalam gelombang pertumbuhan ekonomi nasional yang mulai pulih pasca-pandemi, Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan geliat yang menjanjikan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita provinsi ini pada tahun 2023 mencapai Rp64,01 juta, meningkat 5,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp58,76 juta. Angka ini mencerminkan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat secara agregat, namun juga menyisakan pekerjaan rumah dalam mengejar ketimpangan dengan capaian nasional.
Jika dilihat lebih luas, PDRB per kapita Sulawesi Tenggara memang masih tertinggal dibandingkan rerata nasional. Pada tahun 2023, PDRB nasional tercatat mencapai Rp75 juta. Sementara pada tahun 2021 dan 2022, PDRB per kapita Sultra berturut-turut berada di angka Rp52,44 juta dan Rp58,71 juta—dibandingkan dengan nasional yang mencapai Rp62,20 juta dan Rp71,03 juta. Ketimpangan ini menggambarkan bahwa meskipun daerah terus bertumbuh, jurang antarwilayah masih lebar dan menuntut perhatian serius dari pembuat kebijakan.
Namun pertumbuhan ekonomi bukanlah satu-satunya indikator kesehatan ekonomi sebuah wilayah. Tekanan harga atau inflasi turut menentukan kenyamanan hidup masyarakat sehari-hari. Inflasi di Sulawesi Tenggara selama 2023 tercatat sebesar 2,58 persen, masih dalam batas wajar dan terkendali. Angka ini diperoleh dari perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui pemantauan harga ritel berbagai barang dan jasa di Kota Kendari sebagai representasi inflasi wilayah.
Inflasi adalah gejala ekonomi yang kompleks. Ia tak hanya sekadar kenaikan harga, tetapi juga cermin dari dinamika pasar—baik karena tingginya permintaan, gangguan distribusi, maupun gejolak biaya produksi. Dalam skala moderat, inflasi bisa jadi pemicu gairah ekonomi: mendorong konsumsi, investasi, hingga peningkatan produksi. Namun bila tak dikendalikan, inflasi justru berpotensi menurunkan daya beli, menekan usaha kecil, dan menciptakan keresahan sosial.
BPS mencatat bahwa penghitungan inflasi dilakukan melalui beberapa indikator utama, seperti Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Harga Produsen (IHP), Indeks Biaya Hidup (COLI), dan deflator Produk Domestik Bruto (PDB). Masing-masing mencerminkan sisi yang berbeda dari kenaikan harga: dari belanja rumah tangga hingga biaya produksi industri.
Membaca Struktur Ekonomi Sultra : Dari Perut Bumi hingga Layanan Publik
Struktur perekonomian Sulawesi Tenggara yang menopang pertumbuhan tersebut bisa dibaca dari distribusi PDRB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha. Hingga tahun 2023, pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi penopang utama dengan kontribusi mencapai Rp40,55 triliun. Di belakangnya, sektor pertambangan dan penggalian melonjak tajam menjadi Rp37,76 triliun, diikuti sektor industri pengolahan yang menyumbang Rp15,45 triliun.
Kehadiran industri pengolahan, terutama nikel dan mineral lainnya, memperlihatkan bahwa hilirisasi mulai berjalan, walau belum merata. Sebaliknya, sektor jasa seperti perdagangan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan juga tumbuh perlahan namun pasti, menandakan pergeseran struktur ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, penyediaan listrik dan gas, air bersih dan daur ulang, meski masih minim kontribusinya secara nominal, menjadi sinyal penting bahwa pembangunan infrastruktur dasar terus bergerak ke arah yang lebih modern dan berorientasi lingkungan.
Menggapai Pemerataan dan Ketangguhan Ekonomi Daerah
Pertumbuhan ekonomi Sultra yang cukup stabil di tengah tantangan global—seperti krisis energi, konflik geopolitik, hingga perubahan iklim—merupakan pencapaian yang patut dicatat. Namun, untuk menuju ekonomi daerah yang benar-benar tangguh dan merata, dibutuhkan lebih dari sekadar angka pertumbuhan.
Arah kebijakan pembangunan ke depan perlu memprioritaskan keseimbangan antara eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan sektor jasa, pendidikan, serta pelindungan sosial. Ekonomi yang bertumpu semata pada tambang tanpa penguatan SDM dan diversifikasi usaha, hanya akan menumbuhkan ketimpangan dan rentan terhadap gejolak pasar global.
Masyarakat Sulawesi Tenggara hari ini berada dalam simpang jalan: di satu sisi menikmati geliat pembangunan, tapi di sisi lain menghadapi tantangan tata kelola sumber daya dan distribusi hasil pembangunan. Maka pertanyaannya kini bukan hanya seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi untuk siapa pertumbuhan itu diberikan?
Reporter: Tim Redaksi Intergreenmedia.co.id
Editor: Royman Maharadja
Sumber Data: BPS Sulawesi Tenggara, 2023
Artikel ini merupakan bagian dari laporan ekonomi regional dan keberlanjutan sosial-ekologis di Sulawesi Tenggara.












