Sulteng,Morut,Intergreenmedia.co.id-Selamat Siang,Kepala Desa Bunta baru saja keluar dari rapat di kantor desa, yang katanya untuk membahas perencanaan dan pengelolaan perangkat desa Tahun 2025. Namun, apakah rakyat benar-benar mendapatkan perhatian yang layak? Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa saat ini yang terpenting adalah urusan internal desa—bukan masalah yang mencabik hati dan merusak kehidupan warganya.
“Yang perlu diutamakan saat ini adalah mengurus desa ini, dan memastikan semua rencana untuk Tahun 2025 berjalan lancar,” ujar Kepala Desa Bunta dengan nada tenang, seolah-olah masalah penggelapan tanah yang melibatkan keluarganya hanyalah isu sepele yang tak perlu dibahas dalam pesan suara whatsapp yang dikirim kepada awak Media.
Namun, dalam realitas yang lebih keras, masyarakat mulai mempertanyakan: apakah sungguh yang paling penting adalah kelancaran proyek desa, sementara keadilan rakyat kecil ditunda-tunda? Apakah penyalahgunaan wewenang dan pengkhianatan kepada keluarga sendiri layak diabaikan begitu saja? Kepala Desa Bunta masih menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak substansial, padahal rakyatnya, seperti Luis Galela, sedang berjuang untuk mengungkap kebohongan besar yang merusak hidupnya.
Intimidasi terhadap Warga dan Jurnalis: Pembungkaman di Balik Senyum Pejabat Desa
Sementara itu, kisah tragis mengenai keluarga Luis Galela semakin memanas. Dugaan penggelapan tanah oleh Kepala Desa Bunta, Cristol Lolo, telah membuat rakyat Bunta bergemuruh. Kasus ini meletup menjadi api yang membakar hati masyarakat, terutama saat diketahui bahwa yang terlibat dalam skandal ini bukan orang asing, melainkan keluarga sendiri! Luis Galela, yang telah mengolah tanah tersebut sejak 1984, ternyata ditipu oleh orang yang seharusnya melindunginya—Cristol Lolo, Kepala Desa Bunta.
Setelah berita ini mengungkap fakta keji tersebut, intimidasi pun datang tak hanya kepada Luis, tetapi juga kepada para jurnalis yang berani membuka tabir kebenaran. Kepala Desa Bunta tidak tinggal diam. Dia berusaha keras menekan dan mengancam warga serta media yang mengungkap kebenaran. Apakah ini bentuk “pembungkaman” yang dilakukan oleh seorang pejabat desa yang seharusnya melayani rakyat, bukan menindas mereka?
Luis, yang merasa sudah terjerat dalam konspirasi gelap, hanya bisa menggertakkan gigi. Dalam konferensi dengan awak media, jurnalis yang mencoba mengungkap skandal ini juga melaporkan adanya ancaman yang datang dari Kepala Desa Bunta. Adakah ini cara pejabat berkuasa menutup-nutupi aib keluarga dan kejahatan yang sudah melukai banyak orang?
“Ini adalah bentuk intimidasi yang tidak bisa diterima! Kami di sini hanya berusaha mencari kebenaran dan keadilan,” kata salah satu jurnalis yang mendapat ancaman. Luis juga menegaskan, “Saya akan bertarung habis-habisan untuk menuntut keadilan, apapun yang terjadi!”
Laporan Kepala Desa Bunta Cepat Ditanggapi, Sementara Laporan Warga Bunta Diabaikan—Ada Apa dengan Polres Morowali Utara?
Ironisnya, laporan Kepala Desa Bunta tentang dugaan intimidasi yang dialami pihaknya ditanggapi dengan begitu cepat oleh Polres Morowali Utara. Namun, laporan masyarakat—termasuk yang datang dari Luis Galela—terkesan lamban dan tak ada kejelasan. Kenapa hanya laporan dari seorang pejabat yang mendapatkan perhatian, sementara rakyat yang merasa dizalimi tidak mendapatkan jawaban?
Masyarakat Bunta kini mulai mempertanyakan integritas dan keadilan aparat penegak hukum. Mengapa keadilan begitu lambat mengalir bagi mereka yang tidak memiliki posisi atau kekuasaan? Apakah ini cara sistem berpihak pada pejabat yang punya kekuasaan, sementara rakyat kecil diperlakukan seolah tak berarti?
Warga Bunta merasa mereka ditinggalkan, seolah suara mereka tidak didengar. Mereka bertanya, apakah Polres Morowali Utara benar-benar memperjuangkan keadilan untuk seluruh masyarakatnya, atau justru terlibat dalam membela mereka yang berkuasa?
Luis Galela: Kakak Sepupu Kepala Desa Bunta, Terjebak dalam Perang Keluarga dan Kepercayaan yang Dikhianati
Luis Galela bukan hanya sekadar korban dalam kasus ini—ia adalah kakak sepupu dari Kepala Desa Bunta, Cristol Lolo. Hubungan darah yang seharusnya menjadi ikatan kepercayaan, kini berubah menjadi pedang yang mengiris. Luis merasa tidak hanya dikhianati oleh pejabat yang seharusnya menjadi pelindung rakyat, tetapi juga oleh keluarganya sendiri.
Kasus ini semakin memperburuk citra keluarga, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan. Sebagai kakak sepupu, Luis tak pernah membayangkan bahwa Cristol Lolo akan mengkhianatinya dengan cara yang begitu licik—merampas tanah yang telah ia kelola sejak 1984, dan bahkan menjualnya tanpa sepengetahuan Luis. Ketika Luis berusaha menuntut keadilan, jawabannya tak lebih dari sebuah penghinaan: “Sudah terjual.”
Kini, masyarakat Bunta yang mengetahui kejadian ini tak bisa lagi menahan amarah mereka. Ini bukan hanya soal tanah, tetapi soal prinsip keadilan, integritas, dan rasa hormat terhadap sesama manusia, apalagi keluarga.RE Inter green media RY .Mona












