Jakarta,Intergreenmedia.co.id –Indonesia kembali menjadi sorotan dunia dalam forum iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya pada agenda Conference of Parties (COP). Sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia, Indonesia memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan iklim global. Namun, komitmen menuju Net Zero Emission 2060 kerap dinilai bertolak belakang dengan kebijakan energi yang masih bergantung pada batubara dan ekspansi industri ekstraktif.
Dalam forum PBB terbaru, delegasi Indonesia menegaskan keseriusan pemerintah dalam memperluas bauran energi terbarukan, memperkuat konservasi hutan, serta menekan laju deforestasi. Langkah ini dipandang sebagai kontribusi penting terhadap Paris Agreement dan agenda pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Meski demikian, sejumlah negara anggota PBB dan organisasi lingkungan internasional menyuarakan kekhawatiran. Mereka menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia pada energi fosil, izin tambang di kawasan ekosistem penting, serta lambatnya transisi menuju energi hijau.
“Indonesia adalah kunci keberhasilan perlawanan global terhadap krisis iklim. Namun, dunia menunggu bukti nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas,” ujar seorang perwakilan LSM lingkungan internasional dalam forum COP PBB.
Pemerintah Indonesia mengklaim telah menekan laju deforestasi secara signifikan dalam lima tahun terakhir. Bahkan, sejumlah laporan internasional memberikan apresiasi atas keberhasilan Indonesia mengurangi kebakaran hutan skala besar. Namun, kritik tetap muncul atas belum maksimalnya transparansi tata kelola karbon dan belum jelasnya skema perlindungan masyarakat adat yang hidup di kawasan hutan.
Pengamat iklim menilai, posisi Indonesia di forum PBB akan sangat menentukan arah kebijakan global. “Jika Indonesia mampu membuktikan transisi energi hijau berjalan konsisten, maka kepercayaan dunia akan meningkat. Tetapi jika ketergantungan pada batubara berlanjut, reputasi diplomasi iklim Indonesia bisa dipertaruhkan,” tegas seorang akademisi hubungan internasional.
Indonesia kini menghadapi pilihan strategis: memperkuat diplomasi hijau sebagai modal politik global atau terjebak dalam stigma negara produsen energi fosil. Dunia menunggu langkah konkret, sementara rakyat Indonesia berharap kebijakan iklim tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga memberi perlindungan nyata terhadap lingkungan dan generasi mendatang.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PBB belum mengeluarkan pernyataan resmi tambahan terkait evaluasi komitmen iklim Indonesia di forum COP. ( Tim RE Intergreenmedia.co.id Fathir.R )












