Sulteng, Morowali, Intergreenmedia.co.id – Gelombang baru aktivitas tambang kembali menyentuh pesisir selatan Morowali. Perusahaan tambang nikel PT Mitra Jaya Perkasa Abadi (MJPA) resmi memperkenalkan rencana operasi di dua desa pesisir, Torete dan Buleleng, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Sosialisasi yang digelar Rabu (5/11/2025) di Gedung Serbaguna Desa Torete dihadiri ratusan warga, Kepala Desa Torete Amrin S, Ketua BPD Baharudin, Babinsa Serka Aksan, dan Babinkamtibmas IPDA Eko Setiawan. Warga tampak menyimak serius paparan pihak perusahaan yang menjanjikan pembangunan dan peluang kerja bagi masyarakat lokal.
Namun di balik antusiasme itu, ada kegelisahan yang terucap pelan. Warga khawatir riwayat panjang tambang di Morowali akan kembali mengulang cerita lama—konflik sosial, lahan tergerus, dan sungai yang keruh oleh aktivitas alat berat.
Tokoh pemuda Desa Torete, Arlan, menegaskan suara hati warga yang berharap agar kegiatan pertambangan berjalan tanpa mengorbankan ruang hidup mereka. “ Kami berharap agar persoalan lingkungan dapat dicegah sejak awal. Rekrutmen tenaga kerja maupun pelibatan pelaku usaha lokal harus memprioritaskan masyarakat lingkar tambang, khususnya di Desa Torete,” ujarnya. Pernyataan itu menjadi penegas keresahan lama masyarakat lingkar tambang: ingin ikut sejahtera, namun tetap ingin menjaga tanah dan laut tetap lestari.
Pihak perusahaan yang diwakili Iswandi, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT MJPA, menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan bentuk keterbukaan awal dan langkah mitigasi konflik sosial. Dari total luas Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) 1.086 hektare, sebagian besar berada di Desa Buleleng, sementara sekitar 35 hektare masuk wilayah Desa Torete.
Meski kecil, wilayah Torete justru akan menjadi pusat aktivitas tahap pertama dan kedua proyek PT MJPA. “ Mulai dari pembangunan workshop, lokasi stockpile, jalan hauling hingga pelabuhan jetty semuanya berada di wilayah Desa Torete. Itu yang kami mulai di tahap awal, termasuk identifikasi lahan yang akan dibebaskan,” jelas Iswandi.
Iswandi menegaskan, perusahaan telah mengantongi IUP eksplorasi dan IUP operasi produksi, serta terdaftar dalam sistem MODI (Minerba One Data Indonesia) milik Kementerian ESDM. “ Untuk Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), saat ini sedang dalam proses pengajuan,” tambahnya.
Bagi masyarakat pesisir, langkah ini menandai awal perubahan besar. Mereka menyambut informasi itu dengan harapan hati-hati, di antara keinginan untuk mendapat pekerjaan dan kekhawatiran akan dampak lingkungan.
Bagi sebagian warga, sosialisasi ini bukan sekadar pengumuman perusahaan—melainkan sinyal datangnya babak baru industrialisasi pesisir. Desa yang selama ini hidup damai di tepi laut kini bersiap menatap deru alat berat, truk hauling, dan kapal jetty yang akan bersandar di perairan mereka.
Warga hanya berharap satu hal: agar kehadiran tambang tak lagi menjadi kutukan yang menukar hijau laut dan hutan dengan abu debu dan janji kosong.( Tim RE Intergreenmedia.co.id Rox )
Catatan Redaksi :
Gelombang industri tambang terus bergerak dari daratan menuju pesisir Morowali. PT MJPA menjadi bagian dari arus baru investasi nikel yang masuk setelah gelombang smelter sebelumnya. Harapan masyarakat kini bertumpu pada transparansi, keberlanjutan, dan janji keterlibatan lokal yang sering kali menguap di tengah gemuruh alat berat.












